materi diskusi


Ancaman Tenggelamnya pulau jawa

Peringatan ini bukan ancaman, tapi untuk meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi langkah-langkah mitigasi dan adaptasi. Kondisi pulau Jawa sudah sangat kritis, bencana banjir yang sedang terjadi hari-hari ini, akan terlulang dengan luasan dan tingkatan yang lebih tinggi di tahun-tahun mendatang. Banjir pada tahun 2011, hampir seluruh pesisir dan dataran rendah pulau Jawa akan tenggelam. Yang terhindar dari banjir nantinya hanyalah dataran tinggi dan bukit-bukit. Banyak indikator ke arah itu yang sudah semakin jelas.

Dalam kitab ilmu bumi, pulau jawa luasnya sekitar 129.000 KM2. Sebagai pulau pusat pemerintahan negara, pulau jawa diakui lebih maju diantara kepulauan lainnya di Indonesia. Menurut catatan, dahulu kala pulau jawa bersatu dengan sumatera. Bahkan pada pertengahan jaman Terzier, Nusantara bergabung dengan daratan asia tenggara. Jawa merupakan ujung dari semenanjung Asia Tenggara yang sekarang terdapat diantara Negara Malaysia, Vietnam, dan Thailand .

Pada jaman Pleistosin Tengah, es mencapai luas yang paling hebat dan permukaan laut menurun sampai 100M. Terjadinya pergerakan kulit bumi dan letusan gunung berapi ikut membentuk daratan. Terjadilah Daratan Sunda di Indonesia bagian barat, Sehingga seperti disebutkan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sulawesi bergabung dengan filipina yang selanjutnya bersatu pula dengan Taiwan di daratan Asia bagian Timur.

Sejak dulu manusia memang tidak memiliki banyak pilihan, hidup mereka banyak tergantung pada kemurahan hati alam. Pertumbuhan jumlah penduduk menyebabkan beban alam untuk memberi kehidupan semakin berat. Di pulau Jawa, sumber kehidupan dasar semakin terbatas, lahan-lahan pertanian dan kawasan-kawasan yang seharusnya dilindungi telah berubah fungsi menjadi pemukiman, pabrik-pabrik dan tumpukan sampah. Alam merintih, menangis dan akhirnya berteriak marah, bencana-pun datang silih berganti. Sebagian kawasan di Pulau Jawa semakin rendah dari permukaan laut. Pulau Jawa hampir tenggelam.

Kondisi pulau Jawa yang kritis dan rawan banjir sesungguhnya sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lampau. Beberapa pakar sudah membuat perkiraan tentang kondisi kritis tersebut dan mereka sudah mengkaji kondisi hutan, pertanian, perkembangan wilayah & kota serta cuaca. Yang mungkin agak kurang dikaji adalah fenomena perubahan iklim akibat pemanasan global. Dari kajian-kajian tersebut diperkirakan bahwa pulau Jawa akan mengalami kekerin\ gan panjang pada musim kemarau dan mengalami banjir pada musim penghujan

Faktor yang sangat berpengaruh saat ini adalah perubahan iklim. Akibat dari perubahan iklim, kemarau menjadi sangat kering sementara curah hujan sangat tinggi pada musim hujan, cuaca sangat fluktuatif dan tidak bisa diduga. Akibatnya pada musim kemarau, kekeringan menyebabkan tanah merekah dan daya ikatnya nyaris hilang. Ketika hujan turun, maka terjadi erosi besar-besaran yang mengakibatkan banjir.  Hampir semua sungai di Jawa sekarang ini membawa sedimen yang sangat besar dimusim hujan.

Sebuah ramalan tentang tanah Jawa telah ada berabad-abad yang lalu. Khususnya mengenai Kehancuran pulau Jawa setelah Seratus Tahun perang Sabil (hasil ramalan Raja Kediri Jayabaya) kehancuran tersebut karena beragam faktor : letusan gunung merapi sampai dengan tenggelam oleh air bah dan banjir bandang. Peristiwa itu diperkirakan terjadi tahun 2074 masehi .

Pulau Jawa pun akan mengalami pergeseran dan pemisahan bagian menjadi sembilan pulau. Hal ini sesuai dengan hukum Geologis, bahwa sewaktu-waktu bumi ini akan mengalami pergeseran, baik akibat Gempa tektonik atau letusan gunung berapi. Adapun faktor penyebab yang menjadi kemungkinan pulau Jawa ini bisa tenggelam dapat saja timbul. Misalnya karena faktor manusianya sendiri, akibat manusia banyak melakukan kejahatan dan dosa besar lainnya. Sehingga energi negatif yang beredar diserap oleh alam pulau jawa yang mengakibatkan ketidakseimbangan yang terjadi di pulau Jawa.

 

Ada pun faktor lain yang mengancam kelangsungan hidup pulau jawa yaitu faktor alam, factor alam  adalah adanya pengaruh global yang berupa perubahan iklim dan cuaca sehubungan dengan aktivitas manusia di beberapa negara industri. Penyebaran polusi dan pengrusakan efek rumah kaca telah terjadi selama hampir 300 tahun sejak revolusi Industri. Aktifitas yang demikian itu menimbulkan lapisan ozon berlubang dan semakin hari semakin besar, efeknya adalah radiasi cahaya matahari tidak langsung diserap atmosfir bumi namun langsung jatuh ke bumi, pemanasan global pun agaknya semakin hari akan menjadi kenyataan. Suhu bumi semakin panas. Dikutub efek dari pemanasan ini bisa mencairkan es sehingga menambah volume air laut. akibatnya beberapa kota pantai dunia bisa tenggelam akibat meluapnya air laut. Pulau jawa yang kini memiliki banyak kota pantai akan terkena imbasnya. Bukan musathil suatu saat kota-kota itu akan hanyut tenggelam bila air laut meluap naik ke daratan. Sementara besarnya gelombang yang terjadi akibat Tsunami (seperti di aceh dan Pangandaran) cukup sulit dibendung dan diantisipasi.

Hutan dalam pengertian yang sesungguhnya, nyaris tidak ada lagi di pulau Jawa, sebab hampir seluruh daerah yang dinyatakan sebagai hutan, sebenarnya sudah berubah fungsi. Hutan yang ada sekarang sebenarnya adalah “hutan-hutanan” dan sudah dieksploitasi guna kepentingan-kepentingan non-hutan, termasuk untuk perkebunan, pertanian, peternakan, pariwisata, permukiman, pengembangan kota & wilayah, dan untuk kepentingan lain. Ekploitasi besar-besaran itu sudah merubah secara drastis fungsi hutan yang menjadi hanya berupa vegetasi penutup kulit bumi. Hutan bukan lagi sebagai penyangga kelestarian ekosistem secara keseluruhan. Perubahan fungsi hutan pulau Jawa terus terjadi dengan kecepatan yang semakin besar. Padahal hutanlah yang berperan besar untuk mencegah terjadinya banjir.

Pengembangan kawasan pertanian dan permukiman penduduk di pulau Jawa pada 10 tahun terakhir ini luar biasa. Selain pertumbuhannya yang sangat cepat, tetapi perubahan fungsi dan pengrusakan ekosistemnya luar biasa cepat. Di desa dan dikota tidak jauh berbeda, semua seolah berlomba merubah ekosistem. Hutan dikonversi menjadi pertanian perkebunan dan permukiman. Konversi yang dilakukan tidak tanggung-tanggung, termasuk dikawasan perbukitan dengan kemiringan lereng sampai 45 derajat.

Akan tetapi pada akhirnya kita perlu mencari jalan terbaik agar kehidupan kita dapat terus berlanjut, tanpa harus berlaku zolim terhadap alam. Memelihara alam mungkin akan menjadi amal jariah, merusak alam akan menghasilkan dosa berkepanjangan. Kita patut bersedih dan prihatin dengan nasib pulau Jawa yang kita tinggali saat ini. Kita patut berdo’a agar seratus tahun yang akan datang, anak-anak sekolah menengah tidak pernah kenal dengan karya sastra yang berjudul “Tenggelamnya Pulau Jawa”.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s