Praktikum Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi


I.                   Judul Praktikum
Penentuan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
II.                Tujuan Praktikum
Mengamati pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi.
Mengamati pengaruh temperatur (suhu) terhadap laju reaksi.
Mengamati pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi.
Mengamati pengaruh katalis terhadap laju reaksi
III.             Dasar Teori
Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu. Satuan jumlah zat bermacam- macam, misalnya gram, mol, atau konsentrasi. Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari, ataupun tahun. Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan satuan konsentrasi (molaritas) (James E. Brady, 1990).
Perhatikan reaksi berikut
Reaktan  →  Produk
Pada awal reaksi, reaktan ada dalam keadaan maksimum sedangkan produk ada dalam keadaan minimal. Setelah reaksi berlangsung, maka produk akan mulai terbentuk. Semakin lama produk akan semakin banyak terbentuk, sedangkan reaktan semakin lama semakin ber- kurang
Aswad (2001) mengatakan, bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah benda-benda yang mempengaruhi konsentrasi, besar partikel dan temperature atas laju reaksi.
Bird (1993) mengatakan, bahwa kecepatan reaksi tergantung pada ion yang mengandung asam dan dengan adanya natriuum tiosulfat maka akan membebaskan iodium telah diasamkan dengan asam sulfat.
Konnaso (1991) mengatakan, bahwa factor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah pengaruh konsentrasi, pengaruh besar partikel atas laju reaksi, pengaruh temperature atas laju reaksi, pada temperature-temperatur atas laju reaksi ini tergantung pada zat-zat pereaksi.
Syukri (2001) Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil reaksi. Proses itu ada yang lambat dan ada yang cepat. Pembahasan tentang kecepatan (laju) reaksi disebut kinetika kimia. Dalam kinetika kimia ini dikemukakan cara menentukan laju reaksi dan factor apa yang mempengaruhinya
Sahma (1997) mengatakan , bahwa laju pertumbuhan butir seng merupakan factor lain yang mempengaruhi ukuran balon yang akan mengalami pengembangan yang sangat cepat karena dipengaruhi oleh larutan asam klorida dan butiran seng.
Whiskia (1994) mengatakan, bahwa salah satu metode penentuan orde reaksi menurut waktu atau reaksi awal dari sederet percobaan. Metode membutuhkan pemetaan yang tepat dari fungsi konsentrasi pereaksi antara waktu yang dipergunakan untuk mendapatkan hasil yang tepat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi:
Konsentrasi
Perubahan jumlah molekul pereaksi dapat berpengaruh pada laju suatu reaksi. Kita telah tahu bahwa jumlah mol spesi zat terlarut dalam 1 liter larutan dinamakan konsentrasi molar. Bila konsentrasi pereaksi diperbesar dalam suatu reaksi, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercepat laju reaksi.
Bila partikel makin banyak, akibatnya lebih banyak kemungkinan partikel saling bertumbukan yang terjadi dalam suatu larutan, sehingga reaksi bertambah cepat.
Luas Permukaan Sentuhan
Suatu reaksi mungkin banyak melibatkan pereaksi dalam bentuk padatan. Perhatikan Gambar 9, bila kita mempunyai kubus dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 1cm. Luas permukaan kubus bagian depan 1 cm x 1 cm = 1 cm2. Luas permukaan bagian belakang, kiri, kanan, atas dan bawah, masing-masing juga 1cm2 . Jadi luas permukaan seluruhnya 6 cm2.
Kemudian kubus tersebut kita pecah jadi dua, maka luas permukaan salah satu kubus hasil pecahan tadi adalah 2(1 cm x 1 cm) + 4 (0,5 cm x 1 cm) = 4 cm2. Berarti luas dua kubus hasil pecahan adalah 8 cm2.
Bila kubus 1 cm3 dipecah menjadi dua, maka luas permukaan sentuh meningkat dua
kalinya, dan permukaan sentuh tadi bereaksi dengan cairan atau gas. Hal ini merupakan contoh bagaimana penurunan ukuran partikel dapat memperluas permukaan sentuh zat.
Bagaimana pengaruh ukuran kepingan zat padat terhadap laju reaksi? Misalkan, kita mengamati reaksi antara batu gamping dengan larutan asam klorida (HCl). Percobaan dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing dengan ukuran keping batu gamping yang berbeda, sedangkan faktor-faktor lainnya seperti massa batu gamping, volume larutan HCl, konsentrasi larutan HCl dan suhu dibuat sama. Dengan demikian, perubahan laju reaksi semata-mata sebagai akibat perbedaan ukuran kepingan batu gamping (kepingan halus dan kepingan kasar). Dalam hal ini, ukuran keping batu gamping kita sebut variabel manipulasi, perubahan laju reaksi (waktu reaksi) disebut variable respon, dan semua faktor lain yang dibuat tetap (sama) disebut variable kontrol.
Mengapa kepingan yang lebih halus bereaksi lebih cepat? Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran yang selanjutnya kita sebut bidang sentuh. Oleh karena itu, makin luas bidang sentuh makin cepat bereaksi. Jadi makin halus ukuran kepingan zat padat makin luas permukaannya.
Pengaruh luas permukaan banyak diterapkan dalam industri, yaitu dengan menghaluskan terlebih dahulu bahan yang berupa padatan sebelum direaksikan. Ketika kita makan, sangat dianjurkan untuk mengunyah makanan hingga lembut, agar proses reaksi di dalam lambung berlangsung lebih cepat dan penyerapan sari makanan lebih sempurna.
Apa hubungannya dengan tumbukan? Makin luas permukaan gamping, makin luas bidang sentuh dengan asam klorida makin besar, sehingga jumlah tumbukannya juga makin besar. Artinya makin kecil ukuran, makin luas permukaannya, makin banyak tumbukan, makin cepat terjadinya reaksi.
Suhu
Umumnya kenaikan suhu mempercepat reaksi, dan sebaliknya penurunan suhu memperlambat reaksi. Bila kita memasak nasi dengan api besar akan lebih cepat dibandingkan api kecil. Bila kita ingin mengawetkan makanan (misalnya ikan) pasti kita pilih lemari es, mengapa? Karena penurunan suhu memperlambat proses pembusukan.
Laju reaksi kimia bertambah dengan naiknya suhu. Laju reaksi ditentukan oleh jumlah tumbukan. Jika suhu dinaikkan, maka kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Sehingga pergerakan partikel-partikel pereaksi makin cepat, makin cepat pergerakan partikel akan menyebabkan terjadinya tumbukan antar zat pereaksi makin banyak, sehingga reaksi makin cepat.
Umumnya kenaikan suhu sebesar 100C menyebabkan kenaikan laju reaksi sebesar dua sampai tiga kali. Kenaikan laju reaksi ini dapat dijelaskan dari gerak molekulnya. Molekul-molekul dalam suatu zat kimia selalu bergerak-gerak. Oleh karena itu, kemungkinan terjadi tabrakan antar molekul yang ada. Tetapi tabrakan itu belum berdampak apa-apa bila energi yang dimiliki oleh molekul-molekul itu tidak cukup untuk menghasilkan tabrakan yang efektif. Kita telah tahu bahwa, energi yang diperlukan untuk menghasilkan tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi pengaktifan.
Energi kinetik molekul-molekul tidak sama. Ada yang besar dan ada yang kecil. Oleh karena itu, pada suhu tertentu ada molekul-molekul yang bertabrakan secara efektif dan ada yang bertabrakan secara tidak efektif. Dengan perkataan lain, ada tabrakan yang menghasilkan reaksi kimia ada yang tidak menghasilkan reaksi kimia. Meningkatkan suhu reaksi berarti menambahkan energi. Energi diserap oleh molekul-molekul sehingga energi kinetik molekul menjadi lebih besar. Akibatnya, molekul-molekul bergerak lebih cepat dan tabrakan dengan dampak benturan yang lebih besar makin sering terjadi. Dengan demikian, benturan antar molekul yang mempunyai energi kinetik yang cukup tinggi itu menyebabkan reaksi kimia juga makin banyak terjadi. Hal ini berarti bahwa laju reaksi makin tinggi.
Katalis
Salah satu cara lain untuk mempercepat laju reaksi adalah dengan jalan menurunkan energi pengaktifan suatu reaksi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan katalis. Katalis adalah zat yang dapat meningkatkan laju reaksi tanpa dirinya mengalami perubahan kimia secara permanen. Katalis dapat bekerja dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi zat yang direaksikan.
Suatu reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya disebut katalisme. Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih cepat. Katalis suatu reaksi biasanya dituliskan di atas tanda panah, misalnya.
2 KClO3 (g) ———- MnO 2 KCl (s) + 3 O 2 (g)
H2 (g) + Cl2 (g) ——– arang 2 HCl (g)
Secara umum proses sustu reaksi kimia dengan penambahan katalis dapat dijelaskan sebagai berikut. Perhatikan zat A dan zat B yang direaksikan membentuk zat AB dengan zat C sebagai katalis.
A + B ——– AB (reaksi lambat)
Bila tanpa katalis diperlukan energi pengaktifan yang tinggi dan terbentuknya AB lambat. Namun, dengan adanya katalis C, maka terjadilah reaksi: A + C— AC (reaksi cepat).
Energi pengaktifan diturunkan, AC terbentuk cepat dan seketika itu juga AC bereaksi dengan B membentuk senyawa ABC.
AC + B —— ABC (reaksi cepat)
Energi pengaktifan reaksi ini rendah sehingga dengan cepat terbentuk ABC yang kemudian mengurai menjadi AB dan C.
ABC ——– AB + C (reaksi cepat)

Ada dua macam katalis, yaitu katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi, dan katalis negatif (inhibitor) yang berfungsi memperlambat laju reaksi. Katalis positif berperan menurunkan energi pengaktifan, dan membuat orientasi molekul sesuai untuk terjadinya tumbukan.
Sedangkan katalisator dibedakan atas katalisator homogen dan katalisator heterogen.
Katalisator homogen
Katalisator homogen adalah katalisator yang mempunyai fasa sama dengan zat yang dikatalisis. Contohnya adalah besi (III) klorida pada reaksi penguraian hidrogen peroksida menjadi air dan gas oksigen menurut persamaan : 2 H2O2 (l)– FeCl—2 H2O (l) + O2 (g)
Katalisator heterogen
Katalisator heterogen adalah katalisator yang mempunyai fasa tidak sama dengan zat yang dikatalisis. Umumnya katalisator heterogen berupa zat padat. Banyak proses industri yang menggunakan katalisator heterogen, sehingga proses dapat berlangsung lebih cepat dan biaya produksi dapat dikurangi.
Banyak logam yang dapat mengikat cukup banyak molekul-molekul gas pada permukannya, misalnya Ni, Pt, Pd dan V. Gaya tarik menarik antara atom logam dengan molekul gas dapat memperlemah ikatan kovalen pada molekul gas, dan bahkan dapat memutuskan ikatan itu. Akibatnya molekul gas yang teradborpsi pada permukaan logam ini menjadi lebih reaktif daripada molekul gas yang tidak terabsorbsi. Prinsip ini adalah kerja dari katalis heterogen, yang banyak dimanfaatkan untuk mengkatalisis reaksi-reaksi gas.
Di beberapa negara maju, kendaraan bermotor telah dilengkapi dengan katalis dari oksida logam atau paduan logam pada knalpotnya sehingga dapat mempercepat reaksi antara gas CO dengan udara. Dalam industri banyak dipergunakan nikel atau platina sebagai katalis pada reaksi hidrogenasi terhadap asam lemak tak jenuh.
Katalis platina, digunakan pada proses Oswald dalam industri asam nitrat, pengubah katalitik pada knalpot kendaraan bermotor
Katalisator enzim
Katalis sangat diperlukan dalam reaksi zat organik, termasuk dalam organisme. Reaksi-reaksi metabolisme dapat berlangsung pada suhu tubuh yang realtif rendah berkat adanya suatu biokatalis yang disebut enzim. Enzim dapat meningkatkan laju reaksi dengan faktor 106 hingga 1018, namun hanya untuk reaksi yang spesifik.
Dalam tubuh kita terdapat ribuan jenis enzim karena setiap enzim hanya dapat mengkatalisis satu reaksi spesifik dalam molekul (substrat) tertentu, Dalam proses katalisis enzim yang digunakan harus sesuai dengan substratnya
Salah satu contoh adalah enzim protease yang dapat digunakan sebagai katalis dalam proses penguraian protein, namun tidak dapat mengkatalisis penguraian skharosa.
Mekanisme Reaksi
Beberapa reaksi berlangsung melalui pembetukan zat antara, sebelum diperoleh produk akhir. Reaksi yang demikian berlangsung tahap demi tahap. Mekanisme reaksi ialah serangkaian reaksi tahap demi tahap yang terjadi berturut-turut selama proses perubahan reaktan menjadi produk.
Sebagai contoh, reaksi: AB + CD => AC + BD
AB dan CD adalah keadaan awal, sedangkan AC dan BD adalah keadaan akhir. Dalam reaksi ini terjadi pemutusan ikatan A-B dan C-D, dan kemudian terbentuk ikatan A-C dan B-D. Proses ini tidak serentak, dapat melalui beberapa tahap, yaitu:
Tahap 1 : AB => A + B (cepat)
Tahap 2 : A + CD => ACD (lambat)
Tahap 3 : ACD => AC + D (cepat)
Tahap 4 : B + D => BD (cepat)
Setiap tahap mekanisme reaksi diatas, mempunyai laju tertentu. Tahap yang paling lambat (tahap 2) disebuttahap penentu laju reaksi, karen tahap ini merupakan penghalang untuk laju reaksi secara keseluruhan.
Gelatin dibuat dari buah nanas. Buah Nanas mengandung enzim aktif protease yang dapat menguraikan molekul protein dalam gelatin Artinya, tidak ada pengaruh kenaikan laju tahap 1, 3, dan 4 terhadap reaksi total.
Reaksi kimia terjadi karena adanya tumbukan yang efektif antara partikel- partikel zat yang bereaksi. Tumbukan efektif adalah tumbukan yang mempunyai energi yang cukup untuk memutuskan ikatan-ikatan pada zat yang bereaksi (James E.Brady,1990).
Contoh tumbukan yang menghasilkan reaksi dan tumbukan yang tidak menghasilkan reaksi antara molekul hidrogen (H2) dan molekul iodin (I2).

IV.             Alat dan Bahan

  1. Alat yang digunakan :

Nama Alat

Jumlah

Pipet tetes

2 buah

Termometer

1 buah

Kaki tiga

1 buah

Pembakar spiritus

1 buah

Kawat kasa

1 buah

Tabung erlenmeyer

4 buah

Stopwatch

1 buah

Neraca

1 buah

Kaca arloji

1 buah

Baskom

1 buah

Silinder pengukur

1 buah

Penyumbat

1 buah

Pipa

1 buah

Kertas putih

1 buah

Tabung reaksi

4 buah

Spidol

1 buah

Lidi

1 buah

Tabung Y

1 buah

Balon

1 buah

Bahan yang digunakan :

Nama Bahan

Jumlah

Larutan HCl 1 M

50 mL

Larutan HCl 2 M

50 mL

Larutan HCl 3 M

50 mL

Larutan Na2S2O3

50 mL

Larutan H2O2

5   mL

Larutan MnO2

5   mL

Kepingan CaCO3

2,5 gr

V.                Cara Kerja
a. Pengaruh konsentrasi pereaksi terhadap laju reaksi:
Menyediakan 3 erlenmeyer yang masing-masing berisi 50 mL larutan HCl dengan konsentrasi 1 M, 2 M dan 3 M.
Menyediakan 3×2,5 gram CaCO3 dengan menggunakan kepingan CaCO3 yang ukurannya sama.
Mengambil erlenmeyer 1 dan memasukkan 2,5 gram CaCO3 lalu menutupnya dengan penyumbat yang telah dilubangi ke pipet yang terhubung dengan silinder pengukur.
Kemudian menentukan waktu yang diperlukan untuk menampung 20 mL gas CO2 pada gelas ukur dengan menggunakan stopwatch.
Mengulangi percobaan untuk 2 konsentrasi HCl lainnya.
b.Pengaruh luas permukaan sentuh terhadap laju reaksi
Menyediakan kepingan CaCO3 ukuran besar sebanyak 2,5 gram dan kepingan CaCO3 ukuran kecil (serbuk) sebanyak 2,5 gram.
2. Memasukkan kepingan CaCO3 ukuran besar ke dalam tabung Y pada kaki yang sebelahnya dengan menggunakan kertas agar tidak tercampur ke kaki yang satu lagi.
3. Memasukkan larutan HCl 2 M ke kaki yang tidak berisi kepingan CaCO3.
4. Menutup bagian atas tabung Y dengan balon, lalu mereaksikan kepingan CaCO3dengan larutan HCl 2 M.
5. Mengukur waktu dengan stopwatch, waktu yang dibutuhkan agar balon mengembang sampai batas kemampuan balon untuk mengembang.
6. Mengulangi percobaan ini untuk kepingan CaCO3 ukuran kecil (serbuk).
c. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
Menyediakan 4 erlenmeyer dan mengisi masing-masing erlenmeyer dengan 50 mL larutan Na2S2O3 0,1 M.
Menyediakan 4 tabung reaksi dan mengisinya dengan 5 mL larutan HCl 1 M.
Menyiapkan selembar kertas putih lalu memberi tanda silang pada kertas dengan menggunakan spidol.
Mengambil 1 erlenmeyer yang berisi larutan Na2S2O3dan mengukur suhu larutan.
Meletakkan erlenmeyer di atas tanda silang pada kertas, lalu menambahkan 5 mL larutan HCl. Menentukan waktu yang dibutuhkan sampai tanda silang tidak terlihat lagi dengan menggunakan stopwatch.
Mengambil erlenmeyer ke 2 dan memanaskannya sampai 35⁰ C.
Meletakkan erlenmeyer di atas tanda silang pada kertas, lalu menambahkan larutan HCl. Mencatat waktu yang dibutuhkan sampai tanda silang tidak terlihat lagi.
Melakukan percobaan yang sama untuk erlenmeyer ke 3 dan 4 yang dipanaskan berturut-turut pada suhu 45⁰ C dan 55⁰ C
d. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Menyediakan larutan H2O2 dan memasukkannya ke dalam 2 buah tabung reaksi.
Membakar lidi sampai terbentuk bara pada lidi.
Mengambil satu buah tabung teaksi yang berisi larutan H2O2lalu memasukkan bara lidi di atasnya.
Mengamati apa yang terjadi pada bara lidi tadi.
Mengambil tabung reaksi yang ke 2, lalu menambahkan MnO2ke dalam tabung reaksi tersebut.
Memasukkan bara lidi ke dalam campuran larutan tadi dan mengamati apa yang terjadi pada bara lidi.

VI.             Tabel Data Pengamatan :
 
 
Pengaruh Konsentrasi Pereaksi terhadap Laju Reaksi
TABEL 1
 

Erlenmeyer

Larutan HCl

Massa CaCO3 (gram)

Waktu yang diperlukan untuk menampung 20 mL gas CO2 (detik)

1

5 mL, HCl 1 M

2,5

65

2

5 mL, HCl 2 M

2,5

32

3

5 mL, HCl 3 M

2,5

30

Pengaruh Luas Permukaan Sentuh terhadap Laju Reaksi
TABEL 2

Ukuran kepingan CaCO3

besar

kecil (serbuk)

Waktu yang diperlukan (detik)

93

63

Pengaruh Suhu terhadap Laju Reaksi
TABEL 3

Erlenmeyer

Suhu (⁰C)

Volum Na2S2O3 (mL)

Volum HCl (mL)

Waktu sampai tanda silang tidak terlihat lagi (detik)

1

Suhu ruang

50

5

637

2

35

50

5

105

3

45

50

5

55

4

55

50

5

35

Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
TABEL 4

Larutan

H2O2

H2O2+MnO2

Keadaan bara lidi (api)

Tidak menyala

Menyala

VII.          Analisis Data/Perhitungan

Pada Tabel 1 diketahui waktu untuk menampung 20 mL gas CO2 adalah 65 detik pada 5 mL, HCl 1 M, sedangkan pada 5 mL, HCl 2 M adalah 32 detik, dan pada larutan 5 mL, HCl 3 M adalah 30 detik.
Pada Tabel 2  waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi massa kepingan CaCO3berukuran besar adalah 93 detik, sedangkan untuk kepingan CaCO3berukuran kecil adalah 63 detik.
Pada Tabel 3 waktu yang dibutuhkan agar tanda silang tidak terlihat lagi dari larutan Na2S2O3 pada suhu ruang yang dicampur dengan HCl adalah 637 detik, larutan Na2S2O3 pada 35 0 yang dicampur dengan HCl adalah 105 detik. larutan Na2S2O3 pada 45 0 yang dicampur dengan HCl adalah 55 detik, dan larutan Na2S2O3 pada 55 0 yang dicampur dengan HCl adalah  35 detik.
Pada Tabel 4 ketika bara lidi (api) dimasukkan ke dalam larutan H2O2 ternyata tidak menyala, sedangkan ketika dimasukkan kedalam larutan H2O2+MnO2 ternyata menyala, karena terdapat oksigen.

VIII.       Jawaban Pertanyaan
Kesimpulan dari 4 kegiatan praktik :
Pada Tabel 1 semakin besar konsenterasi larutan, makin cepat laju reaksinya.
Pada Tabel 2 semakin luas permukaan sentuh, semakin cepat laju reaksinya.
Pada Tabel 3 semakin tinggi suhunya, semakin cepat laju reaksinya.
Pada Tabel 4 penambahan katalis positif, mempercepat laju reaksinya.

IX.             Kesimpulan
 
Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi. Makin besar konsentrasi zat yang terlibat dalam suatu reaksi berarti makin banyak partikel atau molekul yang bertumbukan. Akibatnya, jumlah tumbukan per satuan luas, per satuan waktu juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, pada keadaan seperti itu laju reaksi bertambah cepat.
Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh ukuran partikel/zat.
Semakin luas permukaan maka semakin banyak tempat bersentuhan untuk berlangsungnya reaksi. Luas permukaan zat dapat dicapai dengan cara memperkecil ukuran zat tersebut.
Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh suhu.
Semakin tinggi suhu reaksi, kecepatan reaksi juga akan makin meningkat sesuai dengan teori Arhenius.  Hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan karena kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya jumlah dan energi tumbukan bertambah besar. Pengaruh perubahan suhu terhadap laju reaksi secara kuantitatif dijelaskan dengan hukum Arrhenius yang dinyatakan dengan persamaan sebagi berikut:
k = Ae-Ea/RT atau ln k = –Ea + ln ART
Dengan R = konstanta gas ideal, A = konstanta yang khas untuk reaksi (faktor frekuensi) dan Ea = energi aktivasi yang bersangkutan.
Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh katalis. Adanya katalisator  dalam reaksi dapat mempercepat jalannya suatu reaksi. Kereakifan dari  katalis bergantung dari jenis dan konsentrasi yang digunakan. Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi untuk memepercepat jalannya reaksi. Katalis biasanya ikut bereaksi sementara dan kemudian terbentuk kembali sebagai zat bebas. Suatu reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya disebut katalisme.

X.                Penutup
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Kami mengharapkan kritik dan sarannya kepada pembaca supaya kami bisa memperbaiki kesalahan tersebut.  Dan kami juga mengharapkan tugas ini bermanfaat bagi pembaca dan semoga tugas ini dapat memenuhi harapan guru pembimbing.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

One thought on “Praktikum Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s